Rabu, 31 Oktober 2018

Bukan Cerita Bersambung


Dialog Bisu #2
Mahbub Isti

Aku ingin mencintaimu dalam setiap hela nafasku, bukan sebagai oksigen namun sebagai harapan agar hidupku tetap beralasan. Walau akhirnya tanpamu pun aku harus tetap berjuang.

Sebuah kabar yang tidak pernah aku inginkan terdengar, sebuah kabar yang bahkan tak pernah terlintas dalam bayangan. Untuk sekian kalinya Tuhan bertindak seenaknya pada hidupku, menulis skenario hidupku tanpa pamit padaku. Akankah nanti melukaiku atau tidak, Tuhan bahkan tidak peduli itu. Ku pikir kabar itu melesat hanya dalam mimpiku, tak puas ternyata itu benar-benar kenyataan hidupku. Entah harus kemana dan pada siapa lagi aku percayakan cerita hidupku selain pada puisi-puisi picisanku yang lebih sering membuat orang jijik merasa aku terlalu berlebihan mendiksikan hidupku atau sama sekali tidak peduli pada tulisanku daripada mencoba untuk sekedar memahami makna tersirat dalam setiap diksiku.
            Baru saja aku belajar merelakan dan mempercayakan cerita hidupku pada seseorang agar tak sendirian aku menyimpannya dalam bait-bait puisi, baru saja aku menemukan seseorang yang bisa menerima semua perbedaan dalam hidupku dibanding orang-orang normal pada umumnya, baru saja aku menemukan sosok yang bisa jadi teman berbagi pada apapun kondisiku. Dan Tuhan seenaknya mengambil dia kembali ke pelukan-Nya, dengan alasan yang sangat sederhana: Tuhan lebih sayang dia daripada aku.
            Maafkan aku Tuhan, kali ini aku tidak begitu setuju dengan skenariomu. Kau bahkan terlihat seolah-olah tidak suka melihatku bangkit untuk menikmati hidup yang sengaja kau berikan padaku. Aku, tidak suka sendirian. Tapi kau mengambil orang-orang yang aku sayang disaat aku sedang membutuhkan semangat hidup dari mereka. Tidak puaskah Kau mengambil bapakku saat aku baru saja memulai mewujudkan mimpinya kala itu untuk mendampingiku memakai toga sebagai tanda keberhasilannya berjuang untuk studiku ? Tidak puaskah Kau memaksa Satria untuk benar-benar hilang dari hidupku saat aku baru saja membangun angan untuk dicintai seseorang ? Dan sekarang Kau ambil pula teman yang sudah menjadi saudaraku saat aku sudah mulai mempercayainya sebagai bagian dari cerita hidupku, saat dia sudah mulai menjadi pemacu semangat mimpiku, saat aku sudah mulai optimis di akhir perjalanan studiku aku tak akan sendirian merayakan buah dari usahaku. Kau terlalu menganggapku kuat Tuhan, Kau terlalu bertindak seenaknya pada hidupku. Meski berhak, harusnya Kau bisa memberi sedikit kelonggaran waktu untuk kami bisa merayakan apa yang seharusnya kami rayakan bersama.
            Apa yang sebenarnya Kau mau dari hidupku ? bahkan membayangkan dengan siapa aku akan merayakan kelulusan nanti pun aku sudah tidak bisa. Aku tidak akan berjanji pada-Mu soal apa-apa yang akan aku lakukan pada hidupku nanti, aku hanya akan berusaha untuk tetap berjuang menyelesaikan semua tugas hidup yang memang harus aku selesaikan. Selebihnya, terserah Kau saja. Dan aku akan mencoba menerima semua perpisahan yang sudah terjadi ataupun yang sudah kau rencanakan nanti. Kadang aku hanya sempat berpikir untuk menanyakan satu hal pada-Mu tentang seberapa kuat aku dimata-Mu.
            Bolehkah aku tulis ulang sedikit saja bagian dari skenario hidup yang sudah kau buat lebih dulu ? Biarkan aku menyelesaikan tugas hidupku, membahagiakan orang tuaku yang tinggal satu, memastikan masa depan adikku baik-baik saja tidak lagi merasa pedih takut kesepian dan takut kekurangan akan suatu apapun dan memastikan studinya bisa membuat dia menjadi orang yang ku percayakan untuk masa tua ibuku nanti, merasakan nikmatnya bekerja sampai kemudian akan ada orang yang selalu mengingatkanku saat lelah. Dialah orang yang benar-benar mau mengenal hidupku dan menerima keluargaku.
         
   “kau belum berubah. Masih sama, dingin dan sedikit bicara. Hanya saja lingkar matamu agak menghitam dan kantung matamu sedikit lebih tebal. Sayang, kau kelelahan....”
Pelukan yang selalu menghangatkan tubuhku saat dingin mulai menyentuh tubuhku, pelukan yang selalu menenangkan aku saat resah dan gelisah melanda pikiranku. Ah sayang... terima kasih untuk pelukanmu yang memusnahkan kesendirianku.

Kamis, 04 Oktober 2018

Dialog Bisu #1

Hai Teman Sastra.... Long time no see you, maaf ya akhir-akhir ini saya lagi males-malesnya nulis buat blog. eh maafkan pemalas ini, yaa!

Oh yaa, postingan kali ini sedikit agak beda dari sebelum-sebelumnya kalau menurut kalian tulisan ini masuk kategori apa ? hmmm oke, cukup direnungkan saja tidak perlu kalian jawab.


Dialog Bisu #1
Mahbub Isti

Ketika kamu takut untuk memulainya, kamu tidak akan pernah mendapat jawabannya. Apakah terlalu sulit untuk memulainya ? TIDAK. Kamu bukan pengecut yang akan terus menerus sembunyi kan ? sampai kapan kamu akan menunggu tanpa melakukan sesuatu ?
Dialog bisu, sebuah gambaran yang menurut manusia normal adalah tabu tapi sebenarnya adalah hal biasa yang sering diam-diam dilakukan oleh manusia tanpa sepengetahuan manusia lain.
Setiap hari keputusan yang kamu buat akan berpengaruh pada hidupmu, entah saat itu juga atau kemudian hari. Keputusan itu meliputi keputusan-keputusan yang kamu ambil mulai sejak untuk bangun tidur sampai untuk kembali tidur. Jam berapa kamu akan bangun adalah keputusanmu yang pertama untuk mendapatkan kenikmatan hidup di hari itu juga, termasuk menunda bangun tidur adalah keputusanmu untuk menikmati hidup di hari itu juga. Tapi tahukah kamu bahwa setiap keputusan yang kamu ambil selalu dibayang-bayangi oleh penyesalan di belakangnya. Bukan tidak mungkin bayang penyesalan itu akan menjadi kenyataan ketika kamu salah mengambil keputusan. Biasanya ketakutan adalah alasan tabu yang sering dilontarkan manusia untuk tidak mengambil keputusan dalam hidupnya, ketakutan sering kali menjadi bayangan hitam manusia untuk berani melakukan suatu hal yang belum tentu ia bisa taklukan. Namun sayangya, ketakutan seringkali dijadikan alasan untuk tidak memulai apapun dalam hidup manusia padahal sebenarnya tidak memulai apapun juga termasuk keputusan yang kalian ambil untuk hidup di hari itu dan yang terjadi adalah pengecut dan pecundang menjadi sebutan yang paling cocok untuknya.
Setan tak sepenuhnya salah dalam setiap keburukan-keburukan yang dilakukan manusia. Setan juga tidak sepenuhnya berhasil menggoda manusia dalam setiap gerak-geriknya. Sebab manusia sendiri yang bisa mengendalikan dirinya, bagaimana ia harus melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Keputusan yang ia ambil adalah wujud dari pengendalian diri seorang manusia, entah disadari atau tidak, keputusan yang ia ambil setiap harinya akan menjadi sebab dari akibat yang akan ia dapatkan kemudian. Pikiran, otak dan hati manusia akan dalam keadaan baik jika mampu bersinkronisasi saat proses pengambilan keputusan. Berbeda dengan makna overthingking, karena yang dibutuhkan hanyalah apa yang harus kamu lakukan saat ini bukan nanti.

Hari ini, Jumat pagi seseorang telah memutuskan untuk bangun tidur sebelum menyelesaikan mimpinya diatas ranjang. Memulainya dengan melihat arloji, bergerak menjauhi ranjangnya, keluar kamarnya hingga berhenti di kamar mandi. Melihat setumpuk pakaian kotor di samping kamar mandi, ia terlihat canggung. Handuk sudah melingkar di lehernya, namun ia memilih untuk merendam pakaiannya sebelum mandi. Bukan tanpa alasan, sebab sebagai seorang perantau yang apa sajanya serba terbatas tak terkecuali pakaian dalamnya. Ia mau tak mau harus mencucinya atau tidak berpakaian esok hari. Setelah itu, ia menuju dapur untuk memenuhi panggilan alamiah si perut bawel. Sebenarnya ia tak perlu repot-repot mampir dapur untuk makan, tinggal keluar mampir warung sebelah selesai sudah masalah. Nyatanya tidak, ia memilih masuk dapur dan memasak ala kadarnya sebab ia sadar hemat adalah penunjang hidupnya selama jauh dari keluarga. Apakah setiap hari keputusannya sama ? TIDAK. Kemarin, kamis siang ia baru memutuskan untuk beranjak dari ranjangnya itu pun sebab panggilan alam. Buang air dan makan. Makan pun ia mampir warung sebelah, menikmatinya sambil menonton tayangan gosip favoritnya kemudian setelah usai ia kembali ke ranjangnya. Seharian ia hanya berkutat di kamarnya.
Jadi apakah ia serajin kelihatannya atau semalas kelihatannya ? ia tidaklah peduli akan hal-hal sesepele penilaian orang terhadapnya, kelihatannya seperti itu padahal sebaliknya.

Dialog Bisu #6

Aku tidak mau memilikimu hanya karena aku memerlukanmu, aku menginginkanmu jika memang ada mimpi dan harapanku dalam dirimu. Kenapa ? Aku en...