Dialog
Bisu #2
Mahbub Isti
Aku ingin mencintaimu dalam setiap hela
nafasku, bukan sebagai oksigen namun sebagai harapan agar hidupku tetap
beralasan. Walau akhirnya tanpamu pun aku harus tetap berjuang.
Sebuah kabar yang tidak
pernah aku inginkan terdengar, sebuah kabar yang bahkan tak pernah terlintas
dalam bayangan. Untuk sekian kalinya Tuhan bertindak seenaknya pada hidupku, menulis
skenario hidupku tanpa pamit padaku. Akankah nanti melukaiku atau tidak, Tuhan
bahkan tidak peduli itu. Ku pikir kabar itu melesat hanya dalam mimpiku, tak
puas ternyata itu benar-benar kenyataan hidupku. Entah harus kemana dan pada
siapa lagi aku percayakan cerita hidupku selain pada puisi-puisi picisanku yang
lebih sering membuat orang jijik merasa aku terlalu berlebihan mendiksikan
hidupku atau sama sekali tidak peduli pada tulisanku daripada mencoba untuk
sekedar memahami makna tersirat dalam setiap diksiku.
Baru
saja aku belajar merelakan dan mempercayakan cerita hidupku pada seseorang agar
tak sendirian aku menyimpannya dalam bait-bait puisi, baru saja aku menemukan
seseorang yang bisa menerima semua perbedaan dalam hidupku dibanding
orang-orang normal pada umumnya, baru saja aku menemukan sosok yang bisa jadi
teman berbagi pada apapun kondisiku. Dan Tuhan seenaknya mengambil dia kembali
ke pelukan-Nya, dengan alasan yang sangat sederhana: Tuhan lebih sayang dia
daripada aku.
Maafkan
aku Tuhan, kali ini aku tidak begitu setuju dengan skenariomu. Kau bahkan
terlihat seolah-olah tidak suka melihatku bangkit untuk menikmati hidup yang
sengaja kau berikan padaku. Aku, tidak suka sendirian. Tapi kau mengambil
orang-orang yang aku sayang disaat aku sedang membutuhkan semangat hidup dari
mereka. Tidak puaskah Kau mengambil bapakku saat aku baru saja memulai
mewujudkan mimpinya kala itu untuk mendampingiku memakai toga sebagai tanda
keberhasilannya berjuang untuk studiku ? Tidak puaskah Kau memaksa Satria untuk
benar-benar hilang dari hidupku saat aku baru saja membangun angan untuk
dicintai seseorang ? Dan sekarang Kau ambil pula teman yang sudah menjadi
saudaraku saat aku sudah mulai mempercayainya sebagai bagian dari cerita
hidupku, saat dia sudah mulai menjadi pemacu semangat mimpiku, saat aku sudah mulai
optimis di akhir perjalanan studiku aku tak akan sendirian merayakan buah dari
usahaku. Kau terlalu menganggapku kuat Tuhan, Kau terlalu bertindak seenaknya
pada hidupku. Meski berhak, harusnya Kau bisa memberi sedikit kelonggaran waktu
untuk kami bisa merayakan apa yang seharusnya kami rayakan bersama.
Apa
yang sebenarnya Kau mau dari hidupku ? bahkan membayangkan dengan siapa aku
akan merayakan kelulusan nanti pun aku sudah tidak bisa. Aku tidak akan
berjanji pada-Mu soal apa-apa yang akan aku lakukan pada hidupku nanti, aku
hanya akan berusaha untuk tetap berjuang menyelesaikan semua tugas hidup yang
memang harus aku selesaikan. Selebihnya, terserah Kau saja. Dan aku akan
mencoba menerima semua perpisahan yang sudah terjadi ataupun yang sudah kau
rencanakan nanti. Kadang aku hanya sempat berpikir untuk menanyakan satu hal
pada-Mu tentang seberapa kuat aku dimata-Mu.
Bolehkah
aku tulis ulang sedikit saja bagian dari skenario hidup yang sudah kau buat
lebih dulu ? Biarkan aku menyelesaikan tugas hidupku, membahagiakan orang tuaku
yang tinggal satu, memastikan masa depan adikku baik-baik saja tidak lagi
merasa pedih takut kesepian dan takut kekurangan akan suatu apapun dan
memastikan studinya bisa membuat dia menjadi orang yang ku percayakan untuk
masa tua ibuku nanti, merasakan nikmatnya bekerja sampai kemudian akan ada
orang yang selalu mengingatkanku saat lelah. Dialah orang yang benar-benar mau
mengenal hidupku dan menerima keluargaku.
“kau
belum berubah. Masih sama, dingin dan sedikit bicara. Hanya saja lingkar matamu
agak menghitam dan kantung matamu sedikit lebih tebal. Sayang, kau
kelelahan....”
Pelukan yang selalu menghangatkan
tubuhku saat dingin mulai menyentuh tubuhku, pelukan yang selalu menenangkan
aku saat resah dan gelisah melanda pikiranku. Ah sayang... terima kasih untuk
pelukanmu yang memusnahkan kesendirianku.