Rabu, 20 November 2019
Quotes ini sudah membohongi anda!
"Yang penting adalah prosesnya, hasil belakangan." Haash! Orang-orang tidak peduli bagaimana kamu berproses, mereka tidak akan melihat prosesmu. Yang mereka lihat adalah bagaimana kamu bisa menghasilkan sekarang.
"Proses tidak akan mengkhianati hasil"
Hey! Sepertinya orang-orang yang masih percaya dengan kalimat-kalimat tersebut adalah orang-orang yang tidak benar-benar tahu bagaimana kehidupan berjalan. Tidakkah mereka tahu kalau seseorang dengan banyak uang dan akses orang dalam bisa skip "proses" untuk mendapatkan hasil ?
Mereka juga sepertinya tidak tahu kalau diluar sana banyak sekali orang-orang yang berjuang keras berproses tetapi tidak mendapatkan hasil dan mudah tersingkirkan jika tidak punya uang.
"Uang bukanlah segalanya"
Betul! Tetapi segalanya butuh uang. Quote-quote diatas sebenarnya membohongi kalian, mereka ada untuk meringankan beban kalian bukan untuk menerima kenyataan. Sayangnya kehidupan adalah kenyataan. Kenyataan yang tidak semudah quote-quote katakan. Kehidupan yang saya benci, kehidupan yang selalu ingin saya tinggalkan tetapi terlalu takut untuk melakukan. Karena setelah kehidupan ini berakhir masih akan ada kehidupan yang lain, yang mana katanya jauh lebih tidak bisa diterima oleh akal. Betapa bodohnya saya, ketika dulu Tuhan menyuruh saya lepas dari sisinya dan turun untuk hidup di dunia yang sangat memuakkan, saya manut-manut saja. Melewati fase-fase yang kadang tidak semua manusia akan paham, atau kamu akan disebut Tidak Normal. Hasssh! Saya tidak punya pilihan.
Jumat, 15 November 2019
November menulis
Manusia Bicara
Mahbub Isti
Apa enaknya membicarakan orang lain jika dirinya sendiri tidak mau jadi bahan perbincangan ?
Apa enaknya menyalahkan orang lain jika dirinya sendiri selalu merasa yang paling benar ?
Mulut manusia lebih menyakitkan dari pukulan tangan
Mulut manusia lebih mematikan dari bisa ular
Mereka membunuh tanpa menyentuhnya
Tidak bisakah seorang manusia diam saja tentang suatu hal yang tidak menjadi tanggung jawabnya ?
Tidak bisakah seorang manusia diam saja ketika bicaranya justru membunuh manusia yang lainnya ?
Cukup diam saja, tanpa merasa tahu betul yang bukan urusannya
Kata-kata tinggal kata-kata
Manusia mati meninggalkan kata-kata
Kata-kata yang membunuh siapa saja
Hey...! Manusia-manusia
matilah kamu dengan tenang, seperti yang dikatakan siaran masjid sebelum kau dikuburkan
Minggu, 24 Maret 2019
Apa yang kamu baca hanyalah puisi bukan aku
Tak Sinambung
Mahbub Isti
Ketika
semesta berbicara aku mendengarkannya
mencoba
mengerti apa mau semesta
meski
tidak mungkin bagi seorang manusia memenuhi semua keinginannya
Aku
tenang,
dibawanya
aku dalam dimensi yang membuatku melayang
Sederhana,
menjadi
baik tanpa merasa baik
melakukan
tanpa merasa di-aku-kan
Sore
ini senja berkilau diantara mendung dan rindu yang kulihat dari bola matamu
Tatapan
mata pada senja adalah derita, sebab kalimat sebelumnya hanyalah ilusi semata
Setiap
tatapanku pada senja adalah derita, sebab khayalku tak pernah sampai padanya
Euforia Luka
Mahbub Isti
Patah
hati tidak seharusnya selalu diratapi
diperlihatkan
perih yang diderita semenjak pergi
adakalanya
harus lapang dada menyambut kedatangannya
merayakan
lewat diksi yang kiranya mewakili
senyum
tidak seharusnya menjadi topeng penutup luka
Melepasnya,
sebab tak pantas membiarkan ia menikmati candu airmata
Jumat, 01 Maret 2019
Cerita pendek yang terakhir untukmu.
3 Saturday
Mahbub Isti
Hari ini, penantianku akan kupastikan berakhir. Apapun jawaban yang akan terlontar darinya, akan jadi akhir dari penantian yang sudah berangsur menjenuhkan. Terik matahari seolah menjadi cahaya diantara remangnya penantian tanpa kepastian. Aku sudah disini, sengaja menunggunya lebih awal. Hari sabtu pukul 14.00 WIB dan veteran kota akan menjadi saksi akhir dari penatnya rindu yang sudah sangat mengganggu.
Yang jelas harapanku adalah akhir yang baik-baik saja. Bayaran apa yang akan ku terima setelah delapan tahun menjadikan ia sebagai poros rindu, adalah urusannya. Urusanku hanya menikmatinya. Satu jam setelah keheningan yang menemani, suara motor yang ku kenali berhenti parkir di depanku. Dia yang aku tunggu. Sosok laki-laki dengan kaos merah, jaket jeans yang sama saat pertama kali mengenalinya, celana dengan robekan yang di sengaja, sneakers kesayangannya dan helm yang baru aku lihat dia memakainya. Dengan raut muka yang selalu menyejukan mataku, ia turun dari motornya dan duduk di sebelahku. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ia masih sama. Aku tidak melihat adanya perbedaan yang nampak menonjol pada dirinya kecuali helmnya.
Sesekali ia menatapku, entah apa yang ada dipikirannya kala itu. Selesai memesan kopi pada pedagang kaki lima di samping kami, ia membuka jaketnya dan memecah hening yang hadir diantara kami. Menanyakan kabar dan kesibukan yang sedang ku jalani. Tidak ada pembicaraan khusus yang membahas kabar hubungan kami setelah kehilangan komunikasi. Ia hanya sesekali bercanda dan membahas pertemuan terakhir kami sebelum ia pamit pergi. Waktu seperti berjalan lebih cepat dari yang seharusnya, kepastian yang ku harap akan ku jemput hari itu kandas sudah. Matahari mulai menyelasaikan tugasnya, ia perlahan pamit meninggalkan pemujanya. Namun tak ada senja yang bisa kami nikmati selagi berdua sebab mendung mendahului kedatangannya.
Aku melihat Tuhan hadir diantara kami, membalut luka yang bertahun-tahun belum terobati. Aku melihat Tuhan hadir diantara kopi dan teh yang kami nikmati sore itu, dan sebuah suara yang berbisik di telinga “mendung hanya sekadar ungkapan kalau semesta sedang cemburu pada kebersamaan kita....”. Kalimat itu menutup pertemuan kami yang berjalan begitu saja, kepastian yang ku harapkan muncul dari mulutnya belum juga ku dapatkan darinya. Biarlah, mungkin Tuhan masih menginginkan pertemuan kami berikutnya.
Pikiranku masih kacau sejak pertemuan itu. Ada beban yang menyesakan dadaku, entah kapan akan melegakan. Ada harapan yang memenuhi ruang otakku. Ada penat yang berisik di telingaku. Seolah ada kehampaan yang ku dapatkan dari pertemuan yang sudah lama aku tunggu. Aku harus menemuinya, melegakan semuanya. Aku tidak butuh apapun darinya, aku hanya menginginkan kepastian untukku bebas melangkah.
Aku memberanikan diri mengajaknya bertemu, menurunkan gengsiku melupakan egoku. Dia setuju untuk pertemuan itu. Di sebuah cafe batas kota, kami bertemu. Seperti biasa, aku datang satu jam lebih awal dari waktu yang kami sepakati. Sampai di tempat, ku lihat motornya sudah terparkir rapi. Sudah datang ? aku bergumam dalam pikiran. Di depan pintu kaca cafe ku lihat dia sudah duduk dengan dua gelas minuman di depannya, dan gawai di tangannya. Pikiranku kemana-mana. Apakah dia baru saja menemui seseorang sebelum aku ? ah entahlah. Dia melihatku lebih dulu dan melambaikan tangannya sebagai tanda bahwa ia duduk disana. Aku mengawalinya dengan senyum sapaan. Percakapan dibuka dengan pertanyaanku tentang dua gelas minuman di meja. Dia sudah memesan minuman itu untukku.
Dia selalu mengisi percakapan kami dengan gayanya yang rame dan penuh candaan. Aku memberanikan untuk mengubah suasana kami menjadi sedikit serius, demi sebuah kelegaan. Hari ini sabtu pukul 3 sore dan ruang cafe yang damai akan menjadi saksi kepastian hubungan kami. Aku memulainya dengan pertanyaan apakah masih ada “kita” diantara aku dan dia ? . dia tertawa terbahak seolah ada yang salah dengan pertanyaan yang ku ajukan padanya. Dia bilang selalu ada “kita” diantara aku dan dia. Sebuah kalimat melegakan yang menenangkan. Sabtu kali ini benar-benar kami lewati tanpa beban yang memberatkan perasaan. Aku meyakinkan diriku, bahwa kami masih sama seperti yang dulu. Senja kali ini datang menyapa pecandunya dengan cahaya yang berkilau menutup pertemuan kami.
Malam semakin larut, debar jantungku belum juga surut. Masih ada rasa yang mengganjal dalam pikiranku entah apa itu. Pertemuan tadi sedikit melegakan, namun ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik mata yang berbinar. Aku tidak bisa menebaknya. Diantara sayup-sayup angin yang masuk lewat jendela kamarku, ada hasrat yang harus aku selesasikan. Aku benar-benar ingin tahu, apa yang ia katakan lewat matanya yang berbinar. Adakah aku sebagai alasan ?
Tidak seperti biasanya, ia ingin menemuiku untuk mengatakan sesuatu hal yang menurutnya penting. Dia bukanlah seseorang dengan pembawaan berat dan serius. Nada bicaranya lewat telepon juga terdengar terputus-putus. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Sabtu ini kami akan bertemu di pantai dekat kota, waktu senja. Harusnya itu akan menjadi momen puitis untuk sepasang kekasih bukan ? tapi nada bicaranya saat ditelepon sangat mengganggu pikiranku. Aku benar-benar ingin tahu apa yang akan dia bicarakan padaku. Aku ingin waktu cepat berlalu, kesabaranku seolah kritis menunggu hari sabtu.
Sabtu datang menyapaku lewat fajar dan kokokan ayam. Sejuk pagi membuat hirup udaraku terasa segar entah nanti sore. Waktu berjalan lambat dari pagi menuju waktu pertemuan kami. Kesabaranku dikoyak-koyak resah, menanti apa yang ingin dia bicarakan nanti. Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB setengah jam sebelum waktu pertemuan kami. Aku memutuskan untuk menunggunya disana. Setengah jam jeda ku pakai untuk menulis bait-bait puisi yang melintas di pikiranku.
Senja belum terlihat jelas di ufuk barat langit yang ku sapa sore ini
Ombak-ombak kecil bergantian menyentuh bibir pantai yang ku pijak
Angin berhembus dengan nafas semesta yang berbeda seolah memberi pertanda
Otakku terasa ramai dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu tidurku semalam
Ku biarkan pasir-pasir sebagai pelampiasan kegundahan
Aku, menunggu seseorang
Dia datang dengan raut muka yang tidak begitu menyenangkan. Aku memulai pembicaraan “ada apa ?” dia belum juga menjawabnya. Hanya diam dan menikmati suasana pantai yang masih cukup sepi. Tak seperti biasanya, yang lebih banyak bicara. Sore itu hening menemani pertemuan kami berdua. Lama setelah senja mulai nampak dengan kemilaunya, ia memecah kesunyian dengan permintaan maaf. Entah apa kesalahannya.
Sore itu berubah jadi sendu, ku lihat airmata diusapnya sebelum membasahi pipinya. Dia belum menceritakan apa-apa. Tangannya meraih tanganku yang ada disebelahnya. Kalimat yang muncul dari mulutnya hanya permintaan maaf tanpa penjelasan apa-apa. Matanya menatapku, tak berbinar seperti biasanya. Agak memerah dan menahan air yang berusaha berontak dimatanya. Kalimat perpisahan terucap dari mulutnya, dia pamit pergi untuk entah berapa lama. Dia tak mau membiarkanku menunggunya lagi dengan waktu yang begitu lama, dia bilang aku berhak mendapatkan kebahagiaan selain darinya. Tapi aku bilang mungkin aku tak bisa sebahagia saat bersamanya. Airmata tak mampu terbendung, dua wajah yang saling berhadapan tak bisa lagi menahannya. Pipi keduanya basah. Entah kenapa senja sore ini tak lebih indah dari mendung yang lalu. Kami memilih untuk menghabiskan senja yang mungkin akan menjadi senja terakhir kami. Malam menyapa, lampu-lampu mulai menyala. Kami masih terdiam di tepi pantai dengan isak yang bergantian. Tanpa kata, tanpa kalimat apa-apa. Hanya tangan yang masih saling bergandengan, tangis dan senyum yang jadi penyeimbang suasana.
Dia benar-benar pamit pergi, ayahnya tidak ingin perbedaan kami merusak hubungan sebuah keluarga hanya karena karena ego kami berdua. Setelah perpisahan itu, sudah ku anggap perasaan yang pernah tumbuh mati bersama kepergianmu. Hingga saat ini, masih jadi anggapan untukku merelakanmu. Waktu berjalan nampak cepat, sejak perpisahan yang tak pernah ku bayangkan itu. Silih berganti laki-laki yang hadir di hidupku tapi tak ada satupun yang bisa membuatku menerimanya masuk dalam hidupku. Aku benar-benar menikmati kesendirian, sama seperti saat aku menunggumu pulang. Aku berusaha mencari sesuatu yang membuatku mencintaimu untuk mencintai seseorang penggantimu. Tapi belum ku temukan itu. Menjadi seseorang yang tak pernah mengenal cinta, mencintai dan dicintai membuat hidupku terasa kurang satu warna. Tulisan-tulisan yang pernah ku tulis menjadi bacaan hampa tanpa rasa. Kedatanganmu membuatku mempelajari cinta, memberi nyawa pada setiap tulisan yang mengalir dari jari-jariku. Kamu guruku.
Aku tidak begitu peduli pada anggapan orang tentang kegalauan yang aku alami. Aku juga tidak begitu peduli pada anggapan orang tentang bagaimana aku bertahan sendiri dan patah hati. Toh itu semua hanya sekadar anggapan. Aku masih sama, seorang perempuan yang patah hatinya, sejak hari itu sampai saat ini. Entah besok pagi.
Kamis, 10 Januari 2019
Puisi, abadikan kamu dalam setiap bait-baitku
Senja Merah Muda
Mahbub Isti
Senja
kian indah melatari pantai diatas kemilau laut biru
siapa
sangka melodi ombak itu berdebur menentramkan jiwaku
bukan
sekali dua kali
tapi
setiap bening matamu menatap rapuhnya aku
Aku,
sang
kalang kabut tersipu dalam diam merah rona pipiku
bahkan
dalam balutan mendung pun kau masih sejuk dipandang
kedatangan
hujan tak lagi mampu menghelamu
kau
tetap datang, kadang tanpa ku tahu
meski
aku tahu senjamu hanya sekilas mengindahkan
tapi
aku lebih tahu senja itu akan datang setiap hari menghiburku
setidaknya
sekadar menemani bersama aroma teh dalam gelasku
dan
pekatnya kopi dalam gelasmu
yang
menyatu lewat segaris senyum,
melengkapi
salam malam tidurku, darimu
merajut
mimpi malamku
melengkapi
kesempurnaan merah mudamu
dalam
ikatan suci peraduan masaku,
bersamamu
Sang
senja merah mudaku
Langganan:
Komentar (Atom)
Dialog Bisu #6
Aku tidak mau memilikimu hanya karena aku memerlukanmu, aku menginginkanmu jika memang ada mimpi dan harapanku dalam dirimu. Kenapa ? Aku en...
-
AMUK di PELUKAN Puisi pertama dari balik derit pintu asrama Ku tulis pelan merasakan kemarahan yang tertahan Di sudut kanan senyum meringai...
-
Senja Merah Muda Mahbub Isti Senja kian indah melatari pantai diatas kemilau laut biru siapa sangka melodi ombak itu berdebur mene...