Rabu, 27 Oktober 2021

Dialog Bisu #4

 


17 Oktober, 27 tahun silam Tuhan mengijinkan ruh yang ia tiup ke rahim seorang perempuan untuk menghirup udara di dunia.

Ia menangis,

Tangisannya adalah ketakutan akan menghadapi hal-hal yang tidak terduga selama hidup di dunia, dalam batas waktu yang katanya hanya Tuhan yang tahu.

Seiring waktu pertanyaan-pertanyaan di kepalanya mulai penuh 

Kenapa harus ia yang dilahirkan ke dunia ? 

Kenapa harus manusia, wujud yang ia punya ?

Kenapa, kenapa dan masih banyak lagi pertanyaan "kenapa" yang ada di benaknya

Sampai di suatu titik, seorang manusia yang beda paham Tuhan dengannya menjawab satu pertanyaan "kenapa" yang selama ini ada di kepalanya


Ini ceritaku, cerita pertentangan antara logika, cinta dan Tuhan. 


Siapa yang tak ingin merasakan hasrat manusiawi untuk dicintai, setidaknya sekali seumur hidup mengenggam tangan seseorang untuk mencapai tujuan yang sama. Tapi bagaimana jika tujuan yang sama justru menjadi kendala dua manusia untuk menghabiskan hidup bersama ? 

Logika lagi-lagi diperkosa kenyataan, hal-hal yang diluar dugaan bisa saja menghantam.

Jika satu Tuhan bisa membuat dua manusia merasa terberkati satu sama lain kemudian bahagia dan merasa lengkap hidupnya, kenapa dua Tuhan justru membuat dua manusia merasa hancur karena sebuah pilihan ? Jika satu Tuhan bisa menguatkan jiwa seseorang, kenapa dua Tuhan justru meluluh lantakan jiwa dua manusia ? 

Ada yang aneh, tapi apa ?

Oh tidak, logikamu tidak seharusnya berjalan demikian kawan 

Bukankah dalam masing-masing kitab suci disebutkan bahwa Tuhan itu cuma satu, lalu apa lagi yang kamu ragukan ? Jelas Tuhan tidak mau jika ada Tuhan lain dalam hidupmu. Itulah kenapa dia membuatmu hancur luluh lantak, supaya kamu merasa hanya Dia tempat pulangmu satu-satunya. Bukankah kamu sudah tahu jika Tuhan itu maha segalanya ? Untuk itu mengertilah jika Dia juga maha cemburu...

Ayolah terima saja nasibmu

Bukankah masih banyak manusia yang satu Tuhan denganmu ? Apakah sulit mendapatkan seseorang dari umat yang sama denganmu ? Tidak. Kamu hanya terlalu mengukur segalanya dengan ukuran dia, sehingga kamu tidak bisa melihat siapa-siapa selain dia. 

Kamu bahkan sudah mulai gila, menjadikan dia sosok yang tidak ada menjadi ada. Bukankah cukup bahagia didekati oleh beberapa pria nyata yang benar-benar ada ? Kenapa kamu memilih mengabadikan fantasimu sebagai penghilang penatmu ? Bukankah cukup dengan memilih satu pria diantara mereka maka kamu akan benar-benar merasa dicintai tanpa harus berfantasi ?


Ayolah.... dia tidak ada!


Halusinasinya makin parah, kakinya sampe gak berasa nyentuh tanah

Airmatanya pelan-pelan menyisakan suara isak yang ditahan

Aku ingin bicara padanya tapi melihat matanya yang tidak menyiratkan kata-kata, aku memilih diam saja. Menemani dia dalam riuh gerimis malam ini. Tangannya yang memeluk kaki ia lepas bersama beban yang dirasakan. Nafasnya sedikit mewakili jawaban atas pertanyaan yang ku tahan dari sejak menemuinya tadi : Kenapa ?

"Sudah ku putuskan untuk mengakhirinya besok pagi" katanya sambil memelukku tiba-tiba  

Ah Tidak. Kamu tidak mengerti alasanku bertahan di titik yang sama selama ini. Aku sudah hancur, tidak mau kembali dibuat lebih hancur oleh seorang pria. Aku sudah muak dengan hal-hal berbau cinta dan romantisasi dunia. Itu semua hanya menyakitiku saja.

Sore itu, langit tak lagi semenarik sebelum bagaimana Tuhanmu mengatakan padaku "he's not yours, he's mine" dan kamu benar-benar lenyap dari hidupku, dibawanya kamu kembali ke rumah Tuhanmu 🌹


Aku sendiri, sepi...

Mati, entah sebentar lagi atau besok pagi

Aku tidak lagi peduli 

Kamis, 21 Oktober 2021

Diksi Pandemi

 Solilokui 

Oleh Mahbub Isti


Hening,

Tak ada kehidupan ramai seperti kemarin

Orang-orang bersembunyi di balik selimut ketakutan

Angin bebas berpetualang di sela-sela gedung pencakar

Polusi, jadi masa lalu yang dikenang orang-orang


Hatchii !!

Alarm pembubaran massa 

Riuh bergemuruh, senyap tiba-tiba

Angka-angka pemberitaan menghantui siapa saja

Langkah kaki makin hati-hati

Jarak jadi teman sehari-hari

Raut muka tertutupi

Mata mengawasi 

Gelisah jadi sarapan pagi

Kemanusiaan semakin hari semakin mati

Orang celaka jadi tontonan

Kematian jadi headline pemberitaan yang dinantikan


Oh negriku, apa kabar kamu ?

Ketakutan merajalela

Bencana antri unjuk suara

Kanan kiri mengungsi

Sana sini terisolasi


Oh nurani, apa kabar kamu ?

Masihkah bernafas hari ini ?

Masihkah berjuang melawan ego dalam diri ?


Sini, peluk Tuhan lebih erat lagi mungkin memang harus diberi peringatan berkali-kali, manusia terlalu serakah dengan rencana sampai lupa persetujuan dunia di tangan siapa


Cemas

Ketakutan

Duka

Kehilangan


Bergumam, menumpahkan sisa airmata tertahan


Selasa, 19 Oktober 2021

Puisi dari balik jeruji penjara suci

 AMUK di PELUKAN


Puisi pertama dari balik derit pintu asrama

Ku tulis pelan merasakan kemarahan yang tertahan

Di sudut kanan senyum meringai membungkam teriakan

Dari dalam, gemuruh amarah bergejolak menari bersama airmata yang tertahan


Sesekali tangan lepas kendali dari pemilik

Lemas terduduk di sudut penyesalan 

Kemudian bangkit, atas nama pembenaran

"Ya, jika tak begini maka mereka akan selalu begitu. Bahkan saat sudah begini, mereka hanya sembuh sedetik setelah itu dan mencipta amuk kembali dalam diriku"

Dialog Bisu #6

Aku tidak mau memilikimu hanya karena aku memerlukanmu, aku menginginkanmu jika memang ada mimpi dan harapanku dalam dirimu. Kenapa ? Aku en...