Senin, 21 Februari 2022

Dialog Bisu #6

Aku tidak mau memilikimu hanya karena aku memerlukanmu, aku menginginkanmu jika memang ada mimpi dan harapanku dalam dirimu.

Kenapa ?

Aku enggan meninggalkan seseorang hanya karena kesalahan, yang akhirnya membuatku bisa menemukan pengganti dalam diri yang lain. Aku ingin ia selalu menjadi ambisi, sehingga aku tidak akan meninggalkannya meski gagal berkali-kali. 

Apakah kamu tidak gelisah dengan usia yang semakin bertambah ?

Usia bukan satu-satunya variabel dalam menentukan apa yang harus kamu lakukan dan apa yang kamu inginkan. Jika begitu, mungkin semua orang akan berlomba ke KUA ketika usia sudah lewat dua puluh lima. 

Bagaimana dengan omongan tetangga ?

Aku menghargai mereka sebagai pengamat dan pengritik yang disediakan Tuhan secara cuma-cuma. Tapi bukan berarti mereka bisa menentukan hidup kita harus bagaimana, sebab mereka tidak akan bertanggung jawab atas apa yang kamu lalui. 

Kamu tidak takut kesepian karena masih sendiri di usia sekarang ini ?

Tentu, tentu ada ketakutan akan hal semacam itu. Apakah aku terlalu pilih-pilih ? Bisa jadi. Tapi aku cukup tahu diri. Apakah dengan alasan kesepian kamu akan dengan mudah mempersilahkan siapa saja masuk ke dalam permainanmu ? Dan menambah koleksi cameo dalam ceritamu ? Mungkin iya, jika itu kamu. 

Apa susahnya menerima kehadiran seseorang yang bisa menerimamu apa adanya ?

Apa dasar dia menerimaku sedemikian rupa ? Ego ? Nafsu ? Kesendirian ? Hiburan ? Pelengkap ? Atau apa ? Hal semacam ini serupa puzzle, kamu hanya perlu pecahan yang tepat. Bukan sekadar susah atau mudah.

Bagaimana mungkin kamu selalu menulis sesuatu yang hanya ada di pikiranmu ?

Sebab sampai sepuluh tahun saat ini pun itu tidak akan pernah ada dalam pikirannya. 

Rabu, 27 Oktober 2021

Dialog Bisu #4

 


17 Oktober, 27 tahun silam Tuhan mengijinkan ruh yang ia tiup ke rahim seorang perempuan untuk menghirup udara di dunia.

Ia menangis,

Tangisannya adalah ketakutan akan menghadapi hal-hal yang tidak terduga selama hidup di dunia, dalam batas waktu yang katanya hanya Tuhan yang tahu.

Seiring waktu pertanyaan-pertanyaan di kepalanya mulai penuh 

Kenapa harus ia yang dilahirkan ke dunia ? 

Kenapa harus manusia, wujud yang ia punya ?

Kenapa, kenapa dan masih banyak lagi pertanyaan "kenapa" yang ada di benaknya

Sampai di suatu titik, seorang manusia yang beda paham Tuhan dengannya menjawab satu pertanyaan "kenapa" yang selama ini ada di kepalanya


Ini ceritaku, cerita pertentangan antara logika, cinta dan Tuhan. 


Siapa yang tak ingin merasakan hasrat manusiawi untuk dicintai, setidaknya sekali seumur hidup mengenggam tangan seseorang untuk mencapai tujuan yang sama. Tapi bagaimana jika tujuan yang sama justru menjadi kendala dua manusia untuk menghabiskan hidup bersama ? 

Logika lagi-lagi diperkosa kenyataan, hal-hal yang diluar dugaan bisa saja menghantam.

Jika satu Tuhan bisa membuat dua manusia merasa terberkati satu sama lain kemudian bahagia dan merasa lengkap hidupnya, kenapa dua Tuhan justru membuat dua manusia merasa hancur karena sebuah pilihan ? Jika satu Tuhan bisa menguatkan jiwa seseorang, kenapa dua Tuhan justru meluluh lantakan jiwa dua manusia ? 

Ada yang aneh, tapi apa ?

Oh tidak, logikamu tidak seharusnya berjalan demikian kawan 

Bukankah dalam masing-masing kitab suci disebutkan bahwa Tuhan itu cuma satu, lalu apa lagi yang kamu ragukan ? Jelas Tuhan tidak mau jika ada Tuhan lain dalam hidupmu. Itulah kenapa dia membuatmu hancur luluh lantak, supaya kamu merasa hanya Dia tempat pulangmu satu-satunya. Bukankah kamu sudah tahu jika Tuhan itu maha segalanya ? Untuk itu mengertilah jika Dia juga maha cemburu...

Ayolah terima saja nasibmu

Bukankah masih banyak manusia yang satu Tuhan denganmu ? Apakah sulit mendapatkan seseorang dari umat yang sama denganmu ? Tidak. Kamu hanya terlalu mengukur segalanya dengan ukuran dia, sehingga kamu tidak bisa melihat siapa-siapa selain dia. 

Kamu bahkan sudah mulai gila, menjadikan dia sosok yang tidak ada menjadi ada. Bukankah cukup bahagia didekati oleh beberapa pria nyata yang benar-benar ada ? Kenapa kamu memilih mengabadikan fantasimu sebagai penghilang penatmu ? Bukankah cukup dengan memilih satu pria diantara mereka maka kamu akan benar-benar merasa dicintai tanpa harus berfantasi ?


Ayolah.... dia tidak ada!


Halusinasinya makin parah, kakinya sampe gak berasa nyentuh tanah

Airmatanya pelan-pelan menyisakan suara isak yang ditahan

Aku ingin bicara padanya tapi melihat matanya yang tidak menyiratkan kata-kata, aku memilih diam saja. Menemani dia dalam riuh gerimis malam ini. Tangannya yang memeluk kaki ia lepas bersama beban yang dirasakan. Nafasnya sedikit mewakili jawaban atas pertanyaan yang ku tahan dari sejak menemuinya tadi : Kenapa ?

"Sudah ku putuskan untuk mengakhirinya besok pagi" katanya sambil memelukku tiba-tiba  

Ah Tidak. Kamu tidak mengerti alasanku bertahan di titik yang sama selama ini. Aku sudah hancur, tidak mau kembali dibuat lebih hancur oleh seorang pria. Aku sudah muak dengan hal-hal berbau cinta dan romantisasi dunia. Itu semua hanya menyakitiku saja.

Sore itu, langit tak lagi semenarik sebelum bagaimana Tuhanmu mengatakan padaku "he's not yours, he's mine" dan kamu benar-benar lenyap dari hidupku, dibawanya kamu kembali ke rumah Tuhanmu 🌹


Aku sendiri, sepi...

Mati, entah sebentar lagi atau besok pagi

Aku tidak lagi peduli 

Kamis, 21 Oktober 2021

Diksi Pandemi

 Solilokui 

Oleh Mahbub Isti


Hening,

Tak ada kehidupan ramai seperti kemarin

Orang-orang bersembunyi di balik selimut ketakutan

Angin bebas berpetualang di sela-sela gedung pencakar

Polusi, jadi masa lalu yang dikenang orang-orang


Hatchii !!

Alarm pembubaran massa 

Riuh bergemuruh, senyap tiba-tiba

Angka-angka pemberitaan menghantui siapa saja

Langkah kaki makin hati-hati

Jarak jadi teman sehari-hari

Raut muka tertutupi

Mata mengawasi 

Gelisah jadi sarapan pagi

Kemanusiaan semakin hari semakin mati

Orang celaka jadi tontonan

Kematian jadi headline pemberitaan yang dinantikan


Oh negriku, apa kabar kamu ?

Ketakutan merajalela

Bencana antri unjuk suara

Kanan kiri mengungsi

Sana sini terisolasi


Oh nurani, apa kabar kamu ?

Masihkah bernafas hari ini ?

Masihkah berjuang melawan ego dalam diri ?


Sini, peluk Tuhan lebih erat lagi mungkin memang harus diberi peringatan berkali-kali, manusia terlalu serakah dengan rencana sampai lupa persetujuan dunia di tangan siapa


Cemas

Ketakutan

Duka

Kehilangan


Bergumam, menumpahkan sisa airmata tertahan


Selasa, 19 Oktober 2021

Puisi dari balik jeruji penjara suci

 AMUK di PELUKAN


Puisi pertama dari balik derit pintu asrama

Ku tulis pelan merasakan kemarahan yang tertahan

Di sudut kanan senyum meringai membungkam teriakan

Dari dalam, gemuruh amarah bergejolak menari bersama airmata yang tertahan


Sesekali tangan lepas kendali dari pemilik

Lemas terduduk di sudut penyesalan 

Kemudian bangkit, atas nama pembenaran

"Ya, jika tak begini maka mereka akan selalu begitu. Bahkan saat sudah begini, mereka hanya sembuh sedetik setelah itu dan mencipta amuk kembali dalam diriku"

Sabtu, 01 Februari 2020

Pindah agama ? Hmmm gimana ya ?

"Kalau ada yang nawarin kamu pindah agama, mau gak ?"

     Okay karena tiba-tiba ada yang ngasih pertanyaan kek gitu, aku mau cerita aja nih. Kalau emang aku mau pindah agama, gak perlu ditawarin deh ya aku akan melakukannya sendiri. Lagian yang nawarin aku tuh mau ngasih apa ke aku ? Orang yang bisa bikin aku nyaman, ngasih kebahagiaan, dan aku sayang aja gak bisa. "Kalau kamu dikasih harta, gimana ?" Woylah jangan bercanda, dia dulu selain ngasih aku kebahagiaan, kenyamanan, dan kasih sayang kek bapakku sendiri juga punya segalanya. Tajir, iya. Mandiri, iya. Fisik, iya relatif lah ya. Suka futsal, main musik, dan baca buku. Emak bapaknya baik ya walaupun bapaknya gak gitu suka dia deket sama aku karena "Beda".

      Pernah kepikiran buat yaudahlahya daripada aku hidup di circle keluarga yang kurang baik dan selalu ngerasa sendiri kenapa nggak aku ikut dia aja. Toh dia udah perfect buat aku, dan belum tentu nanti aku bakal ketemu orang kek dia lagi. Itu yang selalu ada dalam benak aku ketika aku ada di rumah. Yang mana rumah buat orang lain biasanya adalah tempat ternyaman melepas lelah, tapi gak buat aku. Aku hidup bersama bapak ibuku, dan 2 saudaraku. 1 saudaraku yang lain milih buat tinggal sama mertuanya. Aku bukan seorang anak yang lahir dan besar di broken home. Tapi apa yang aku rasakan juga terlalu sakit. Sejak kecil, ibuku jadi TKW jadi aku besar dengan kasih sayang seorang ayah. Tidak dekat dengan saudara, entah kenapa. Saat ibuku pulang ke rumah, saudara beliau selalu memojokkan bapakku. Entah uang hasil kerja ibuku dipake bapakku lah, bapakku penghasilannya gak seberapa lah, numpang hidup sama ibuku lah, dll. That's make me bad. Karena mereka gak tau bagaimana kami hidup, bagaimana bapakku berjuang untuk keempat anaknya dari masih kecil sampe melepas 2 anaknya untuk laki-laki lain. Bisa-bisanya mereka ngomong gitu, kan shit!
Dan ibuku terpengaruh sama omongan sodara-sodaranya, yang akhirnya bikin suasana rumah makin gak nyaman buat aku.
      Meskipun tinggal serumah, bapak ibuku tidak tidur satu kamar. Mereka tidur di ruangan yang berbeda. Tidak saling tegur sapa, kecuali perihal uang belanja. Belum lagi masalah baru yang muncul ketika kakak keduaku menikah, yang akhirnya aku merasa ada sekat kuat di dalam rumah. Ibuku dan kakak keduaku di pihak yang sama, kakak pertamaku dan bapakku di pihak lainnya. Aku dan adikku ? Kami tidak tahu apa-apa. Tidak tahu harus bagaimana. Dan itu berlangsung lama sampai aku masuk perguruan tinggi, dan sesekali mencoba memberanikan diri menengahi mereka. Menghancurkan tembok Berlin di dalam rumah, tapi sia-sia. Tidak ada yang mau mendengarkan aku. Aku cenderung lebih dekat dengan bapakku, sebab dari kecil memang begitu. Sesekali aku memohon padanya untuk menyudahi hubungan keluarga semacam itu, tapi beliau selalu bilang percuma karena tidak ada yang mau mendengarkan beliau juga.
       Sampai di titik aku bertemu dengan seseorang, sebut saja namanya Satria. Hidupku mulai berubah warna, dari yang hanya monokrom muncul warna traffic light. Lebih berwarna. Bisa ketawa lepas tanpa beban, berpikir lebih tenang, kuat kalau semuanya pasti akan baik-baik saja. Pantangan kami cuma satu, agama. Aku yang tidak pernah menceritakan apapun masalah dalam hidupku, bisa plong ketika cerita sama dia. Gak ada ketakutan kalau suatu saat akan kehilangan dia. He's knew i'm depressed. And he never leave me. Bahkan sejak dia tahu aku depresi dia jadi lebih care sama aku. That's like a dream. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan dia.
        Dan saat aku di tengah pencarian jati diri akankah aku mengikutinya atau tetep stay menjadi bagian dari keluarga, dia tidak pernah sekalipun ikut campur atau membujuk agar aku jadi bagian darinya. Dia mau aku memutuskan sendiri, dan dia akan menghormati apapun keputusanku nantinya. Tiba di hari yang mana aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri seumur hidup. Bapakku meninggal, dan aku tidak bisa menemaninya disaat terakhirnya. Bahkan aku terlambat untuk melihatnya terakhir kali. Airmata seakan sia-sia. Tidak bisa mengembalikan waktu yang terlewat. He's support me, dan itu membuatku bisa lebih tenang saat menemui kawan-kawan yang datang. Aku tidak bisa menangis di depan mereka, aku tidak mau mereka tau betapa aku sangat buruk saat itu. Bahkan saat dia datang menemui ku, airmataku sedikit pun enggan keluar.
"Aku baik-baik saja" kataku padanya
Meskipun dia tahu yang sebenernya.
       Sejak kepergian bapakku itu, tembok di dalam rumah kami perlahan runtuh. Aku merasakan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, and i said with my self "seandainya bapak masih ada, dia pasti akan sangat senang. Tapi diatas sana pun aku percaya beliau senang melihatnya"
       Pencarian jati diri ku sebagai siapa aku, berakhir disana. Aku tidak mau menjadi seorang anak yang durhaka. Dulu guru ngajiku pernah bilang "doa orang selain muslim untuk saudara muslim, tidak akan didengar Tuhan." 
Aku tidak mau doa-doa ku untuk bapak tidak didengar Tuhan. Aku tidak mau hanya karena keegoisan ku menginginkan kebahagiaan, aku tidak bisa memohonkan ampunan untuk kesalahan beliau kepada Tuhan. Aku pikir ini adalah keputusan yang benar. Kalau aku harus tetap bertahan. Dan soal pasangan, Tuhan pasti akan menggantinya dengan orang lain yang kelak akan datang untukku lagi. 
Terima kasih, Sat.... Pernah jadi bagian ceritaku yang menyenangkan, pernah jadi warna baru untuk hidupku. Terima kasih sudah membuat seorang gadis yang sangat malas baca buku jadi addict sama buku. Terima kasih mengajarkan aku bagaimana berjuang ke tepian saat tenggelam. Terima kasih membuka pikiran gadis bodoh yang sangat tertutup ini untuk lebih mencintai perbedaan, lingkungan, dan kemanusiaan. 
I love you....  
Wish you happy there, God bless you... 

Minggu, 26 Januari 2020

Masihkah aku jadi rumahmu ?

Jatuh cinta dengan orang yang sama selama beberapa tahun lamanya itu gimana rasanya ?
Bahkan saat kita sendiri tidak tahu bagaimana sekarang ia menjalani kehidupan. Apakah bahagia atau biasa saja ? Apakah sudah menikah dan berkeluarga ? Apakah masih ingat kamu atau sudah lupa.
   Orang-orang bilang seperti orang bodoh yang memancing di sumur rumah. Tidak akan ada ikan yang hidup disana, penantian itu akan sia-sia. Aku sangat menikmatinya. Entah apa yang membuat hatiku begitu kalah, selalu berharap pertemuan itu akan hadir untuk kami suatu saat nanti.
Menutup hati untuk orang lain sih tidak ya, tetapi memang belum ada yang bisa masuk menggantikan namanya. Tidak mencoba ? Ah kata siapa. Aku bahkan menyesal pernah mempermainkan beberapa laki-laki hanya untuk uji coba kalau aku masih bisa jatuh cinta untuk orang yang berbeda. Tetapi kenyataannya tidak, mereka seperti kurir yang masuk kedalam hidupku. Membawa apa yang aku mau, tapi tak bisa ku persilahkan masuk ke dalam rumah. Beberapa hanya menjadi tamu yang singgah, tak bisa tinggal lebih lama di dalam rumah apalagi selamanya disana. Seringkali bahkan kesannya aku justru menambah daftar luka  untuk mereka yang benar-benar jatuh cinta. Aku tidak bermaksud memanfaatkan mereka untuk kesenangan ku semata, aku benar-benar ingin merasakan kembali bagaimana rasanya mencintai. Sudah mencoba melupakan kehadirannya, tetapi tidak bisa. Semakin mencoba melupakan, hadirnya semakin pekat, dekat, dan jelas di kepalaku.
   Satu-satunya laki-laki yang membuatku kembali mencintai setelah terluka hampir mati. Satu-satunya laki-laki yang membuatku kembali mencintai setelah ku pikir aku sudah menemukan pengganti. Tak pernah sekalipun aku merasa hal yang sama untuk orang lain. Merasa aneh, bodoh, dan baik-baik saja. Entah apa yang dimilikinya, entah apa kelebihannya. Masih teringat jelas moment terakhir kami bersua sebelum berpisah, rasanya biasa saja tapi begitu pekat di ingatan. Ia memintaku menulis namaku di lengan bajunya yang masih kosong saat bagian lainnya penuh coretan pena tanda tangan kawan-kawannya. Ia memberiku ucapan selamat untuk pencapaian nilai ujian saat itu, lengkap dengan senyumnya. Dan setelah itu tak ada lagi kata-kata yang mempertemukan kami. Bahkan saat pesta perpisahan tiba, kami tak bersua. Reuni yang coba dihadirkan kawan-kawan saja tidak mampu mempertemukan kami berdua. Entah reuni yang sengaja dibuat untuk satu angkatan sekolah ataupun reuni yang tak sengaja saat salah satu kawan kami menikah.
   Semoga kamu baik-baik saja dan bahagia, jika memang Tuhan menuliskan nama kami berdampingan maka kamu akan pulang. Aku masih sama, menjadi rumahmu yang bisa kamu kunjungi kapan saja, yang bisa menjadi tempat pulangmu setelah lelah mengembara. Sebelum rumah itu menemukan pemilik barunya saat kau tinggalkan lama, maka ia masih milik orang yang sama : kamu.
Tapi jika akhirnya nanti rumah itu menemukan pemilik barunya yang merawatnya dengan baik, maka kamu tidak lagi punya tempat disana bahkan untuk singgah sementara.

Rabu, 20 November 2019

Quotes ini sudah membohongi anda!


"Yang penting adalah prosesnya, hasil belakangan." Haash! Orang-orang tidak peduli bagaimana kamu berproses, mereka tidak akan melihat prosesmu. Yang mereka lihat adalah bagaimana kamu bisa menghasilkan sekarang.
"Proses tidak akan mengkhianati hasil"
Hey! Sepertinya orang-orang yang masih percaya dengan kalimat-kalimat tersebut adalah orang-orang yang tidak benar-benar tahu bagaimana kehidupan berjalan. Tidakkah mereka tahu kalau seseorang dengan banyak uang dan akses orang dalam bisa skip "proses" untuk mendapatkan hasil ?
Mereka juga sepertinya tidak tahu kalau diluar sana banyak sekali orang-orang yang berjuang keras berproses tetapi tidak mendapatkan hasil dan mudah tersingkirkan jika tidak punya uang.
"Uang bukanlah segalanya"
Betul! Tetapi segalanya butuh uang. Quote-quote diatas sebenarnya membohongi kalian, mereka ada untuk meringankan beban kalian bukan untuk menerima kenyataan. Sayangnya kehidupan adalah kenyataan. Kenyataan yang tidak semudah quote-quote katakan. Kehidupan yang saya benci, kehidupan yang selalu ingin saya tinggalkan tetapi terlalu takut untuk melakukan. Karena setelah kehidupan ini berakhir masih akan ada kehidupan yang lain, yang mana katanya jauh lebih tidak bisa diterima oleh akal. Betapa bodohnya saya, ketika dulu Tuhan menyuruh saya lepas dari sisinya dan turun untuk hidup di dunia yang sangat memuakkan, saya manut-manut saja. Melewati fase-fase yang kadang tidak semua manusia akan paham, atau kamu akan disebut Tidak Normal. Hasssh! Saya tidak punya pilihan.

Jumat, 15 November 2019

November menulis

Manusia Bicara
Mahbub Isti

Apa enaknya membicarakan orang lain jika dirinya sendiri tidak mau jadi bahan perbincangan ?
Apa enaknya menyalahkan orang lain jika dirinya sendiri selalu merasa yang paling benar ?

Mulut manusia lebih menyakitkan dari pukulan tangan
Mulut manusia lebih mematikan dari bisa ular
Mereka membunuh tanpa menyentuhnya

Tidak bisakah seorang manusia diam saja tentang suatu hal yang tidak menjadi tanggung jawabnya ?
Tidak bisakah seorang manusia diam saja ketika bicaranya justru membunuh manusia yang lainnya ?
Cukup diam saja, tanpa merasa tahu betul yang bukan urusannya

Kata-kata tinggal kata-kata
Manusia mati meninggalkan kata-kata
Kata-kata yang membunuh siapa saja

Hey...! Manusia-manusia
matilah kamu dengan tenang, seperti yang dikatakan siaran masjid sebelum kau dikuburkan

Minggu, 24 Maret 2019

Apa yang kamu baca hanyalah puisi bukan aku

Tak Sinambung
Mahbub Isti

Ketika semesta berbicara aku mendengarkannya
mencoba mengerti apa mau semesta
meski tidak mungkin bagi seorang manusia memenuhi semua keinginannya

Aku tenang,
dibawanya aku dalam dimensi yang membuatku melayang
Sederhana,
menjadi baik tanpa merasa baik
melakukan tanpa merasa di-aku-kan

Sore ini senja berkilau diantara mendung dan rindu yang kulihat dari bola matamu
Tatapan mata pada senja adalah derita, sebab kalimat sebelumnya hanyalah ilusi semata

Setiap tatapanku pada senja adalah derita, sebab khayalku tak pernah sampai padanya


Euforia Luka
Mahbub Isti

Patah hati tidak seharusnya selalu diratapi
diperlihatkan perih yang diderita semenjak pergi
adakalanya harus lapang dada menyambut kedatangannya
merayakan lewat diksi yang kiranya mewakili
senyum tidak seharusnya menjadi topeng penutup luka
Melepasnya, sebab tak pantas membiarkan ia menikmati candu airmata

Jumat, 01 Maret 2019

Cerita pendek yang terakhir untukmu.

3 Saturday
Mahbub Isti

Hari ini, penantianku akan kupastikan berakhir. Apapun jawaban yang akan terlontar darinya, akan jadi akhir dari penantian yang sudah berangsur menjenuhkan. Terik matahari seolah menjadi cahaya diantara remangnya penantian tanpa kepastian. Aku sudah disini, sengaja menunggunya lebih awal. Hari sabtu pukul 14.00 WIB dan veteran kota akan menjadi saksi akhir dari penatnya rindu yang sudah sangat mengganggu.
Yang jelas harapanku adalah akhir yang baik-baik saja. Bayaran apa yang akan ku terima setelah delapan tahun menjadikan ia sebagai poros rindu, adalah urusannya. Urusanku hanya menikmatinya. Satu jam setelah keheningan yang menemani, suara motor yang ku kenali berhenti parkir di depanku. Dia yang aku tunggu. Sosok laki-laki dengan kaos merah, jaket jeans yang sama saat pertama kali mengenalinya, celana dengan robekan yang di sengaja, sneakers kesayangannya dan helm yang baru aku lihat dia memakainya. Dengan raut muka yang selalu menyejukan mataku, ia turun dari motornya dan duduk di sebelahku. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ia masih sama. Aku tidak melihat adanya perbedaan yang nampak menonjol pada dirinya kecuali helmnya.
Sesekali ia menatapku, entah apa yang ada dipikirannya kala itu. Selesai memesan kopi pada pedagang kaki lima di samping kami, ia membuka jaketnya dan memecah hening yang hadir diantara kami. Menanyakan kabar dan kesibukan yang sedang ku jalani. Tidak ada pembicaraan khusus yang membahas kabar hubungan kami setelah kehilangan komunikasi. Ia hanya sesekali bercanda dan membahas pertemuan terakhir kami sebelum ia pamit pergi. Waktu seperti berjalan lebih cepat dari yang seharusnya, kepastian yang ku harap akan ku jemput hari itu kandas sudah. Matahari mulai menyelasaikan tugasnya, ia perlahan pamit meninggalkan pemujanya. Namun tak ada senja yang bisa kami nikmati selagi berdua sebab mendung mendahului kedatangannya.
Aku melihat Tuhan hadir diantara kami, membalut luka yang bertahun-tahun belum terobati. Aku melihat Tuhan hadir diantara kopi dan teh yang kami nikmati sore itu, dan sebuah suara yang berbisik di telinga “mendung hanya sekadar ungkapan kalau semesta sedang cemburu pada kebersamaan kita....”. Kalimat itu menutup pertemuan kami yang berjalan begitu saja, kepastian yang ku harapkan muncul dari mulutnya belum juga ku dapatkan darinya. Biarlah, mungkin Tuhan masih menginginkan pertemuan kami berikutnya.
Pikiranku masih kacau sejak pertemuan itu. Ada beban yang menyesakan dadaku, entah kapan akan melegakan. Ada harapan yang memenuhi ruang otakku. Ada penat yang berisik di telingaku. Seolah ada kehampaan yang ku dapatkan dari pertemuan yang sudah lama aku tunggu. Aku harus menemuinya, melegakan semuanya. Aku tidak butuh apapun darinya, aku hanya menginginkan kepastian untukku bebas melangkah.
Aku memberanikan diri mengajaknya bertemu, menurunkan gengsiku melupakan egoku. Dia setuju untuk pertemuan itu. Di sebuah cafe batas kota, kami bertemu. Seperti biasa, aku datang satu jam lebih awal dari waktu yang kami sepakati. Sampai di tempat, ku lihat motornya sudah terparkir rapi. Sudah datang ? aku bergumam dalam pikiran. Di depan pintu kaca cafe ku lihat dia sudah duduk dengan dua gelas minuman di depannya, dan gawai di tangannya. Pikiranku kemana-mana. Apakah dia baru saja menemui seseorang sebelum aku ? ah entahlah. Dia melihatku lebih dulu dan melambaikan tangannya sebagai tanda bahwa ia duduk disana. Aku mengawalinya dengan senyum sapaan. Percakapan dibuka dengan pertanyaanku tentang dua gelas minuman di meja. Dia sudah memesan minuman itu untukku.
Dia selalu mengisi percakapan kami dengan gayanya yang rame dan penuh candaan. Aku memberanikan untuk mengubah suasana kami menjadi sedikit serius, demi sebuah kelegaan. Hari ini sabtu pukul 3 sore dan ruang cafe yang damai akan menjadi saksi kepastian hubungan kami. Aku memulainya dengan pertanyaan apakah masih ada “kita” diantara aku dan dia ? . dia tertawa terbahak seolah ada yang salah dengan pertanyaan yang ku ajukan padanya. Dia bilang selalu ada “kita” diantara aku dan dia. Sebuah kalimat melegakan yang menenangkan. Sabtu kali ini benar-benar kami lewati tanpa beban yang memberatkan perasaan. Aku meyakinkan diriku, bahwa kami masih sama seperti yang dulu. Senja kali ini datang menyapa pecandunya dengan cahaya yang berkilau menutup pertemuan kami.
Malam semakin larut, debar jantungku belum juga surut. Masih ada rasa yang mengganjal dalam pikiranku entah apa itu. Pertemuan tadi sedikit melegakan, namun ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik mata yang berbinar. Aku tidak bisa menebaknya. Diantara sayup-sayup angin yang masuk lewat jendela kamarku, ada hasrat yang harus aku selesasikan. Aku benar-benar ingin tahu, apa yang ia katakan lewat matanya yang berbinar. Adakah aku sebagai alasan ?
Tidak seperti biasanya, ia ingin menemuiku untuk mengatakan sesuatu hal yang menurutnya penting. Dia bukanlah seseorang dengan pembawaan berat dan serius. Nada bicaranya lewat telepon juga terdengar terputus-putus. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Sabtu ini kami akan bertemu di pantai dekat kota, waktu senja. Harusnya itu akan menjadi momen puitis untuk sepasang kekasih bukan ? tapi nada bicaranya saat ditelepon sangat mengganggu pikiranku. Aku benar-benar ingin tahu apa yang akan dia bicarakan padaku. Aku ingin waktu cepat berlalu, kesabaranku seolah kritis menunggu hari sabtu.
Sabtu datang menyapaku lewat fajar dan kokokan ayam. Sejuk pagi membuat hirup udaraku terasa segar entah nanti sore. Waktu berjalan lambat dari pagi menuju waktu pertemuan kami. Kesabaranku dikoyak-koyak resah, menanti apa yang ingin dia bicarakan nanti. Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB setengah jam sebelum waktu pertemuan kami. Aku memutuskan untuk menunggunya disana. Setengah jam jeda ku pakai untuk menulis bait-bait puisi yang melintas di pikiranku.
Senja belum terlihat jelas di ufuk barat langit yang ku sapa sore ini
Ombak-ombak kecil bergantian menyentuh bibir pantai yang ku pijak
Angin berhembus dengan nafas semesta yang berbeda seolah memberi pertanda
Otakku terasa ramai dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu tidurku semalam
Ku biarkan pasir-pasir sebagai pelampiasan kegundahan
Aku, menunggu seseorang
Dia datang dengan raut muka yang tidak begitu menyenangkan. Aku memulai pembicaraan “ada apa ?” dia belum juga menjawabnya. Hanya diam dan menikmati suasana pantai yang masih cukup sepi. Tak seperti biasanya, yang lebih banyak bicara. Sore itu hening menemani pertemuan kami berdua. Lama setelah senja mulai nampak dengan kemilaunya, ia memecah kesunyian dengan permintaan maaf. Entah apa kesalahannya.
            Sore itu berubah jadi sendu, ku lihat airmata diusapnya sebelum membasahi pipinya. Dia belum menceritakan apa-apa. Tangannya meraih tanganku yang ada disebelahnya. Kalimat yang muncul dari mulutnya hanya permintaan maaf tanpa penjelasan apa-apa. Matanya menatapku, tak berbinar seperti biasanya. Agak memerah dan menahan air yang berusaha berontak dimatanya. Kalimat perpisahan terucap dari mulutnya, dia pamit pergi untuk entah berapa lama. Dia tak mau membiarkanku menunggunya lagi dengan waktu yang begitu lama, dia bilang aku berhak mendapatkan kebahagiaan selain darinya. Tapi aku bilang mungkin aku tak bisa sebahagia saat bersamanya. Airmata tak mampu terbendung, dua wajah yang saling berhadapan tak bisa lagi menahannya. Pipi keduanya basah. Entah kenapa senja sore ini tak lebih indah dari mendung yang lalu. Kami memilih untuk menghabiskan senja yang mungkin akan menjadi senja terakhir kami. Malam menyapa, lampu-lampu mulai menyala. Kami masih terdiam di tepi pantai dengan isak yang bergantian. Tanpa kata, tanpa kalimat apa-apa. Hanya tangan yang masih saling bergandengan, tangis dan senyum yang jadi penyeimbang suasana.
            Dia benar-benar pamit pergi, ayahnya tidak ingin perbedaan kami merusak hubungan sebuah keluarga hanya karena karena ego kami berdua. Setelah perpisahan itu, sudah ku anggap perasaan yang pernah tumbuh mati bersama kepergianmu. Hingga saat ini, masih jadi anggapan untukku merelakanmu. Waktu berjalan nampak cepat, sejak perpisahan yang tak pernah ku bayangkan itu. Silih berganti laki-laki yang hadir di hidupku tapi tak ada satupun yang bisa membuatku menerimanya masuk dalam hidupku. Aku benar-benar menikmati kesendirian, sama seperti saat aku menunggumu pulang. Aku berusaha mencari sesuatu yang membuatku mencintaimu untuk mencintai seseorang penggantimu. Tapi belum ku temukan itu. Menjadi seseorang yang tak pernah mengenal cinta, mencintai dan dicintai membuat hidupku terasa kurang satu warna. Tulisan-tulisan yang pernah ku tulis menjadi bacaan hampa tanpa rasa. Kedatanganmu membuatku mempelajari cinta, memberi nyawa pada setiap tulisan yang mengalir dari jari-jariku. Kamu guruku.
            Aku tidak begitu peduli pada anggapan orang tentang kegalauan yang aku alami. Aku juga tidak begitu peduli pada anggapan orang tentang bagaimana aku bertahan sendiri dan patah hati. Toh itu semua hanya sekadar anggapan. Aku masih sama, seorang perempuan yang patah hatinya, sejak hari itu sampai saat ini. Entah besok pagi.

Kamis, 10 Januari 2019

Puisi, abadikan kamu dalam setiap bait-baitku


Senja Merah Muda
Mahbub Isti

Senja kian indah melatari pantai diatas kemilau laut biru
siapa sangka melodi ombak itu berdebur menentramkan jiwaku

bukan sekali dua kali
tapi setiap bening matamu menatap rapuhnya aku

Aku,
sang kalang kabut tersipu dalam diam merah rona pipiku

bahkan dalam balutan mendung pun kau masih sejuk dipandang
kedatangan hujan tak lagi mampu menghelamu
kau tetap datang, kadang tanpa ku tahu
meski aku tahu senjamu hanya sekilas mengindahkan
tapi aku lebih tahu senja itu akan datang setiap hari menghiburku

setidaknya sekadar menemani bersama aroma teh dalam gelasku
dan pekatnya kopi dalam gelasmu
yang menyatu lewat segaris senyum,
melengkapi salam malam tidurku, darimu

merajut mimpi malamku
melengkapi kesempurnaan merah mudamu
dalam ikatan suci peraduan masaku,
bersamamu
Sang senja merah mudaku

Dialog Bisu #6

Aku tidak mau memilikimu hanya karena aku memerlukanmu, aku menginginkanmu jika memang ada mimpi dan harapanku dalam dirimu. Kenapa ? Aku en...