Jatuh cinta dengan orang yang sama selama beberapa tahun lamanya itu gimana rasanya ?
Bahkan saat kita sendiri tidak tahu bagaimana sekarang ia menjalani kehidupan. Apakah bahagia atau biasa saja ? Apakah sudah menikah dan berkeluarga ? Apakah masih ingat kamu atau sudah lupa.
Orang-orang bilang seperti orang bodoh yang memancing di sumur rumah. Tidak akan ada ikan yang hidup disana, penantian itu akan sia-sia. Aku sangat menikmatinya. Entah apa yang membuat hatiku begitu kalah, selalu berharap pertemuan itu akan hadir untuk kami suatu saat nanti.
Menutup hati untuk orang lain sih tidak ya, tetapi memang belum ada yang bisa masuk menggantikan namanya. Tidak mencoba ? Ah kata siapa. Aku bahkan menyesal pernah mempermainkan beberapa laki-laki hanya untuk uji coba kalau aku masih bisa jatuh cinta untuk orang yang berbeda. Tetapi kenyataannya tidak, mereka seperti kurir yang masuk kedalam hidupku. Membawa apa yang aku mau, tapi tak bisa ku persilahkan masuk ke dalam rumah. Beberapa hanya menjadi tamu yang singgah, tak bisa tinggal lebih lama di dalam rumah apalagi selamanya disana. Seringkali bahkan kesannya aku justru menambah daftar luka untuk mereka yang benar-benar jatuh cinta. Aku tidak bermaksud memanfaatkan mereka untuk kesenangan ku semata, aku benar-benar ingin merasakan kembali bagaimana rasanya mencintai. Sudah mencoba melupakan kehadirannya, tetapi tidak bisa. Semakin mencoba melupakan, hadirnya semakin pekat, dekat, dan jelas di kepalaku.
Satu-satunya laki-laki yang membuatku kembali mencintai setelah terluka hampir mati. Satu-satunya laki-laki yang membuatku kembali mencintai setelah ku pikir aku sudah menemukan pengganti. Tak pernah sekalipun aku merasa hal yang sama untuk orang lain. Merasa aneh, bodoh, dan baik-baik saja. Entah apa yang dimilikinya, entah apa kelebihannya. Masih teringat jelas moment terakhir kami bersua sebelum berpisah, rasanya biasa saja tapi begitu pekat di ingatan. Ia memintaku menulis namaku di lengan bajunya yang masih kosong saat bagian lainnya penuh coretan pena tanda tangan kawan-kawannya. Ia memberiku ucapan selamat untuk pencapaian nilai ujian saat itu, lengkap dengan senyumnya. Dan setelah itu tak ada lagi kata-kata yang mempertemukan kami. Bahkan saat pesta perpisahan tiba, kami tak bersua. Reuni yang coba dihadirkan kawan-kawan saja tidak mampu mempertemukan kami berdua. Entah reuni yang sengaja dibuat untuk satu angkatan sekolah ataupun reuni yang tak sengaja saat salah satu kawan kami menikah.
Semoga kamu baik-baik saja dan bahagia, jika memang Tuhan menuliskan nama kami berdampingan maka kamu akan pulang. Aku masih sama, menjadi rumahmu yang bisa kamu kunjungi kapan saja, yang bisa menjadi tempat pulangmu setelah lelah mengembara. Sebelum rumah itu menemukan pemilik barunya saat kau tinggalkan lama, maka ia masih milik orang yang sama : kamu.
Tapi jika akhirnya nanti rumah itu menemukan pemilik barunya yang merawatnya dengan baik, maka kamu tidak lagi punya tempat disana bahkan untuk singgah sementara.
Langganan:
Komentar (Atom)
Dialog Bisu #6
Aku tidak mau memilikimu hanya karena aku memerlukanmu, aku menginginkanmu jika memang ada mimpi dan harapanku dalam dirimu. Kenapa ? Aku en...
-
AMUK di PELUKAN Puisi pertama dari balik derit pintu asrama Ku tulis pelan merasakan kemarahan yang tertahan Di sudut kanan senyum meringai...
-
Senja Merah Muda Mahbub Isti Senja kian indah melatari pantai diatas kemilau laut biru siapa sangka melodi ombak itu berdebur mene...