Satria
(kesempatan yang tertunda)
Salah satu hal yang
paling sulit selama hidup di bumi adalah melepas seseorang yang dikasihi untuk
pergi. Pergi meninggalkan untuk orang lain ataupun pergi meninggalkan untuk
selamanya, yang artinya kita tidak lagi bisa bertemu dengannya walaupun sudah berada
di dalam alam yang sama. Bukan hal mudah untuk membiasakan diri menikmati hidup
sendiri sedang sebelumnya kita bisa berbagi. Walau hanya sekedar basa basi
tanpa arti namun hal-hal kecil semacam itulah yang kemudian bisa
menenggelamkanmu dalam lautan rindu.
Ini kisahku, kisah
seorang perempuan yang berusaha bangkit dari patah hati yang ia rasakan. Bukan
hal mudah baginya untuk mengakui ia telah jatuh cinta. Bukan hal mudah pula
baginya untuk mengakui setiap kekalahannya dalam cinta. Orang bilang cinta akan
tumbuh karena terbiasa, kalimat yang tak sepenuhnya salah namun tidak tepat
dengan kenyataannya. Cinta datang bukan karena terbiasa, karena seseorang yang
sudah biasa sekalipun akan sulit untuk jatuh cinta. Cinta tidak bisa memilih
pada siapa ia akan berlabuh, dimana dan kapan. Tidak heran jika ada istilah
cinta datang terlambat, sebenarnya bukan terlambat hanya saja datang di waktu yang
tidak tepat. Entah salah satunya sudah berpasangan atau keduanya yang sudah
berpasangan. Cinta tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan yang sudah
bersandingan, sebab untuk bersanding pun dulu pernah mengakui cinta yang tumbuh
diantara keduanya. Itulah cinta. Cinta sejati atau bukan, tidak lagi
ditentukan oleh cinta tapi oleh orangnya. Bagaimana ia menjemput dan menjaga
cinta yang sudah datang padanya adalah urusannya. Orang bilang “tapi Tuhan maha
membolak-balikan hati”, aku bilang tinggal seberapa kuat kamu bertahan dan
mempertahankan yang sudah ada.
Dan dia datang disaat
aku benar-benar dalam kehampaan, patah hati yang sudah menjadikanku bukan lagi
aku. Dia datang pelan-pelan, tidak terburu-buru meski tahu saat itu adalah
waktu yang tepat untuk masuk dalam hidupku. Pilihannya ada padaku,
mempersilahkan masuk menyambutnya dengan baik atau mengabaikannya karena masih
takut untuk kembali lara. Dan aku memilih yang kedua, sebab luka yang ku terima
kemarin masih sangat basah. Diterimanya luka tanpa permisi itu membuatku kian
patah setiap mengingat bagian-bagiannya. Aku pikir dia akan menyerah sama
seperti para pria sebelumnya yang tidak bisa menerima aku dengan luka yang
masih belum sembuh itu. Dia berbeda, dia benar-benar masih sama seperti saat
pertama kali aku mengenalnya. Meski berkali-kali aku mengabaikannya, ia tidak
pernah berhenti berusaha mengembalikanku seperti semula. Dia tidak pernah
memintaku untuk melupakan masa-masa patahku, tidak pernah memaksaku untuk
melihat ke depan dan melupakan semua kenangan pahit yang masih tertinggal. Dia
benar-benar teman. Tidak pernah protes soal puisi-puisi dan tulisan kegalauan
yang aku tinggalkan di WA stories atau instastoriesku, meskipun kadang sedikit
mengkritik bahasa atau diksiku yang terlalu blak-blakan. Mungkin dia adalah
satu-satunya orang yang berani mengaku suka puisi-puisi picisanku meskipun
disertai kritik dan saran tapi justru itu yang membuatku berpikir bahwa dia
tidak sedang merayu, dia benar-benar suka tulisanku.
Sebab itu aku mulai
sedikit lebih baik padanya, tidak lagi sedingin saat awal-awal aku mengenalnya.
Walaupun dia tahu aku belum bisa membuka hati untuknya. dia masih sama, tetap
hangat dengan caranya. Perlahan dia mulai membuatku nyaman meski aku tetap
belum mau sepenuhnya mempercayakan hatiku padanya, aku mulai suka. Dia
mengajariku bagaimana belajar hidup tanpa menggurui, tanpa melarang dan
menjelek-jelekan apa yang sudah aku biasakan. Dia yang membuatku jatuh cinta
pada buku-buku yang sebelumnya tak pernah aku mau tahu, mendukungku untuk
menjemput ide-ide yang muncul dibenakku dan menuliskannya pada apapun media yang sedang aku bawa. Dia adalah Satria.