Okay karena tiba-tiba ada yang ngasih pertanyaan kek gitu, aku mau cerita aja nih. Kalau emang aku mau pindah agama, gak perlu ditawarin deh ya aku akan melakukannya sendiri. Lagian yang nawarin aku tuh mau ngasih apa ke aku ? Orang yang bisa bikin aku nyaman, ngasih kebahagiaan, dan aku sayang aja gak bisa. "Kalau kamu dikasih harta, gimana ?" Woylah jangan bercanda, dia dulu selain ngasih aku kebahagiaan, kenyamanan, dan kasih sayang kek bapakku sendiri juga punya segalanya. Tajir, iya. Mandiri, iya. Fisik, iya relatif lah ya. Suka futsal, main musik, dan baca buku. Emak bapaknya baik ya walaupun bapaknya gak gitu suka dia deket sama aku karena "Beda".
Pernah kepikiran buat yaudahlahya daripada aku hidup di circle keluarga yang kurang baik dan selalu ngerasa sendiri kenapa nggak aku ikut dia aja. Toh dia udah perfect buat aku, dan belum tentu nanti aku bakal ketemu orang kek dia lagi. Itu yang selalu ada dalam benak aku ketika aku ada di rumah. Yang mana rumah buat orang lain biasanya adalah tempat ternyaman melepas lelah, tapi gak buat aku. Aku hidup bersama bapak ibuku, dan 2 saudaraku. 1 saudaraku yang lain milih buat tinggal sama mertuanya. Aku bukan seorang anak yang lahir dan besar di broken home. Tapi apa yang aku rasakan juga terlalu sakit. Sejak kecil, ibuku jadi TKW jadi aku besar dengan kasih sayang seorang ayah. Tidak dekat dengan saudara, entah kenapa. Saat ibuku pulang ke rumah, saudara beliau selalu memojokkan bapakku. Entah uang hasil kerja ibuku dipake bapakku lah, bapakku penghasilannya gak seberapa lah, numpang hidup sama ibuku lah, dll. That's make me bad. Karena mereka gak tau bagaimana kami hidup, bagaimana bapakku berjuang untuk keempat anaknya dari masih kecil sampe melepas 2 anaknya untuk laki-laki lain. Bisa-bisanya mereka ngomong gitu, kan shit!
Dan ibuku terpengaruh sama omongan sodara-sodaranya, yang akhirnya bikin suasana rumah makin gak nyaman buat aku.
Meskipun tinggal serumah, bapak ibuku tidak tidur satu kamar. Mereka tidur di ruangan yang berbeda. Tidak saling tegur sapa, kecuali perihal uang belanja. Belum lagi masalah baru yang muncul ketika kakak keduaku menikah, yang akhirnya aku merasa ada sekat kuat di dalam rumah. Ibuku dan kakak keduaku di pihak yang sama, kakak pertamaku dan bapakku di pihak lainnya. Aku dan adikku ? Kami tidak tahu apa-apa. Tidak tahu harus bagaimana. Dan itu berlangsung lama sampai aku masuk perguruan tinggi, dan sesekali mencoba memberanikan diri menengahi mereka. Menghancurkan tembok Berlin di dalam rumah, tapi sia-sia. Tidak ada yang mau mendengarkan aku. Aku cenderung lebih dekat dengan bapakku, sebab dari kecil memang begitu. Sesekali aku memohon padanya untuk menyudahi hubungan keluarga semacam itu, tapi beliau selalu bilang percuma karena tidak ada yang mau mendengarkan beliau juga.
Sampai di titik aku bertemu dengan seseorang, sebut saja namanya Satria. Hidupku mulai berubah warna, dari yang hanya monokrom muncul warna traffic light. Lebih berwarna. Bisa ketawa lepas tanpa beban, berpikir lebih tenang, kuat kalau semuanya pasti akan baik-baik saja. Pantangan kami cuma satu, agama. Aku yang tidak pernah menceritakan apapun masalah dalam hidupku, bisa plong ketika cerita sama dia. Gak ada ketakutan kalau suatu saat akan kehilangan dia. He's knew i'm depressed. And he never leave me. Bahkan sejak dia tahu aku depresi dia jadi lebih care sama aku. That's like a dream. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan dia.
Dan saat aku di tengah pencarian jati diri akankah aku mengikutinya atau tetep stay menjadi bagian dari keluarga, dia tidak pernah sekalipun ikut campur atau membujuk agar aku jadi bagian darinya. Dia mau aku memutuskan sendiri, dan dia akan menghormati apapun keputusanku nantinya. Tiba di hari yang mana aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri seumur hidup. Bapakku meninggal, dan aku tidak bisa menemaninya disaat terakhirnya. Bahkan aku terlambat untuk melihatnya terakhir kali. Airmata seakan sia-sia. Tidak bisa mengembalikan waktu yang terlewat. He's support me, dan itu membuatku bisa lebih tenang saat menemui kawan-kawan yang datang. Aku tidak bisa menangis di depan mereka, aku tidak mau mereka tau betapa aku sangat buruk saat itu. Bahkan saat dia datang menemui ku, airmataku sedikit pun enggan keluar.
"Aku baik-baik saja" kataku padanya
Meskipun dia tahu yang sebenernya.
Sejak kepergian bapakku itu, tembok di dalam rumah kami perlahan runtuh. Aku merasakan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, and i said with my self "seandainya bapak masih ada, dia pasti akan sangat senang. Tapi diatas sana pun aku percaya beliau senang melihatnya"
Pencarian jati diri ku sebagai siapa aku, berakhir disana. Aku tidak mau menjadi seorang anak yang durhaka. Dulu guru ngajiku pernah bilang "doa orang selain muslim untuk saudara muslim, tidak akan didengar Tuhan."
Aku tidak mau doa-doa ku untuk bapak tidak didengar Tuhan. Aku tidak mau hanya karena keegoisan ku menginginkan kebahagiaan, aku tidak bisa memohonkan ampunan untuk kesalahan beliau kepada Tuhan. Aku pikir ini adalah keputusan yang benar. Kalau aku harus tetap bertahan. Dan soal pasangan, Tuhan pasti akan menggantinya dengan orang lain yang kelak akan datang untukku lagi.
Terima kasih, Sat.... Pernah jadi bagian ceritaku yang menyenangkan, pernah jadi warna baru untuk hidupku. Terima kasih sudah membuat seorang gadis yang sangat malas baca buku jadi addict sama buku. Terima kasih mengajarkan aku bagaimana berjuang ke tepian saat tenggelam. Terima kasih membuka pikiran gadis bodoh yang sangat tertutup ini untuk lebih mencintai perbedaan, lingkungan, dan kemanusiaan.
I love you....
Wish you happy there, God bless you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar